Minggu, 18 Oktober 2009

>> The Saw Indonesia <<

Mungkin aku sudah telah banget nulis ini,tapi kalo ga ditulis, diempet jadi jerawatan kalo ga jadi sakit gigi (kalo ini gara-gara jarang gosok gigi:>).Sebelumnya aku ucapkan turut berbela sungkawa sedalam-dalamnya atas sederetan bencana yang menimpa negeri ini.Semoga para korban di beri ketabahan dan semoga ini adalah ujian bukan hukuman dari Allah SWT,amiiiiin...

Tentunya banyak beragam cerita duka yang menimpa korban,salah satunya yang paling menarik perhatianku yaitu seorang pemuda yang rela menggergaji kaki kanannya sendiri demi mempertahankan hidupnya.Pemuda itu bernama Surahman (bukan nama sebenarnya karena aku bener2 lupa siapa namanya hehehe...),asal Purwokerto umur 18 tahun yang merantau di Padang selama 6 bulan yang berprofesi sebagai kuli bangunan.
Petaka itu terjadi pada tanggal 30 September 2009 sekitar pukul 17.17 (menurut sumber terpercaya.Ketika itu dia mau siap2 pulang kerja dan ketika gempa itu terjadi dia masih berada dalam gedung (waktu itu dia bekerja untuk renovasi Gedung Grapari Telkomsel).Dan ketika dia terbangun dari pingsannya dia sudah melihat sekitaranya gelap gulita dan kaki kanannya tertimpa beton dari reruntuhan gedung itu.Dia merasakan rasa sakit yang luar biasa pada kakinya,dia teriak minta tolong juga tak ada sambutan sama sekali.Menurutnya dia bertahan dalam reruntuhan itu selama kurang lebih 2 jam.Dia bingung mesti gimana lagi karena pertolongan tak kunjung datang sedangkan rasa sakit sudah tak tertahankan.Dia melihat di sekitarnya cuma ada reruntuhan beton dan gergaji,dan ide gila itu muncul.Dia berusaha sekuat tenaga meraih gergaji itu dan menggergaji kakinya.....

Tidak ada pilihan lain selain ide gila itu untuk terus bertahan hidup.Yang membuatku tidak habis fikir adalah darimana dia dapat tenaga untuk menggergaji kakinya sendiri yang itu berarti dia harus menggergaji tulang kakinya juga,sedangkan tulang itu keras dan rasa sakit yang dideritanya itu pasti bikin dia banyak kehilangan tenaga.Ya itulah KuasaNya....bikin sesuatu yang ga mungkin jadi mungkin,jauh dari kemampuan akal fikir manusia.Kini Surahman mendapatkan simpati dari orang banyak termasuk dari beberapa LSM ibu kota yang mau membantu biaya perawatannya hingga menyediakan kaki palsu.Ada pula yang mau membantu membantu membiayai pendidikannya hingga dia selesai kuliah dan membantu mencarikan pekerjaan untuknya...

Cocok kan kalo artikel ini aku kasih judul The Saw Indonesia,cara mempertahankan hidup sama seperti di film mengerikan itu.Bedanya adalah korban di film itu akhirnya mati tapi untung Surahman enggak.Sekali lagi berkat KuasaNya,subhanallah...
Artikel ini juga cocok sebagai penyemangat hidup,walopun banyak jalan berliku tapi tetep do the best yah,termasuk buat penulis yang mulai luntur idealismenya hihihihi...

Selasa, 06 Oktober 2009

>>LaLi Jiwo<<

Lali Jiwo artinya lupa ama dirinya sendiri alias GILAAAAA....
kegilaan itu dimulai ketika hari minggu tanggal 4 oktober 09 ketemuan ama temen2 seperjuangan 03 karena ada pernikahan member kita. Pertama kesannya membosankan banget karena nunggu jemputan mobil dari temen probolinggo yang tak kunjung datang.Kita yang cewek2 make upnya dah pada luntur gara2 panasnya kota pahlawan dan dan terguyur asinnya air raga hehehehe.....Untung ada satu cowok dateng,Tom Cruise nya kelas kita dulu.Lumayanlah suasana agak adem:). Ngobrol-ngobrol ngelantur kesana kemari,eh ga kerasa jemputan mobil dateng....

darrrrrrrrrr....... derrrrrrrrrrrrr........ bagaikan pesta petasan 17 agustus,rame banget sepanjang perjalanan menuju tempat acara.Obrolanan,ejekan,ketawa ketiwi campur aduk jadi satu,asiiiiiik banget. Ada aja yang topik yang di obrolin,hmmmm pokoknya menyenangkan banget walaupun jadi LALI JIWO. Serasa masih kuliah dulu yang suka bolos bareng,kelayapan,ngabisin duit ortu(maap udah terlanjur) hehehehe... walaupun sekarang pake duit sendiri dan lumayan nguras kantong,tapi kebahagiaan itu tak tergantikan karena belom tentu setahun sekali kayak gini.Pokoknya sillaturrahim (ini yang bener,bukan sillaturrahmi) yang bikin LALI JIWO itu jadi kenangan yang irreplaceable